Mimpi Pertumbuhan Ekonomi Capres

Target Pertumbuhan Ekonomi Ambisius
Beberapa waktu lalu, Capres 02, Prabowo Subianto, menjanjikan pertumbuhan ekonomi minimum 8%, bahkan yakin bisa mencapai pertumbuhan double digit, jika terpilih sebagai presiden. Dengan kondisi saat ini yang ingin dilanjutkan nya, janji target pertumbuhan ekonomi itu lebih merupakan mimpi daripada visi.

Dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini, target pertumbuhan 6% sudah merupakan target optimis, sedangkan target 7% membutuhkan perubahan dan strategi besar baru, sedangkan target 8% membutuhkan strategi besar baru plus “extra effort” untuk mencapainya. Jadi jika capres 02 menjanjikan pertumbuhan 8% saja, hanya bermodalkan melanjutkan kebijakan pemerintah sebelumnya, itu sudah target yang sangat tidak realistis, terlebih lagi menjanjikan pertumbuhan double digit.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, diatas 5%, memang adalah krusial bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. Menjadi wajar jika para capres menetapkan target tinggi untuk pertumbuhan ekonomi. Namun kita membutuhkan narasi dan strategi besar baru untuk meruntuhkan “dekade kutukan pertumbuhan 5%” era Presiden Jokowi. Menjadi tidak kredibel ketika capres 02 menetapkan target 8% dengan kebijakan lama. Untuk mengejar posisi Indonesia sebagai negara maju di 2045, kita mutlak membutuhkan narasi dan gagasan besar yang baru. Strategi besar pembangunan era Presiden Jokowi saat ini, pembangunan infrastruktur dan hilirisasi tambang, terbukti gagal mentransformasi perekonomian dan gagal mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dalam 10 tahun terakhir ini. Sepuluh tahun memerintah, Presiden Jokowi hanya mampu mencapai pertumbuhan 4,2%, dan tetap hanya 5,1% jika kita keluarkan tahun pandemi, gagal mencapai target pertumbuhan 7% yang dijanjikannya. Jika sekedar melanjutkan narasi besar pembangunan era Presiden Jokowi, mencapai pertumbuhan 7% saja akan gagal, apalagi 8%, terlebih lagi double digit. Bagai pungguk merindukan bulan.

Ancaman Jebakan Kelas Menengah

Tantangan terbesar Indonesia masa depan adalah ancaman jebakan kelas menengah (middle income trap) yg kini di depan mata. Dalam 10 tahun terakhir, ketika kita menikmati bonus demografi sejak 2012 dengan periode puncaknya pada 2020 – 2030, pertumbuhan ekonomi kita justru semakin turun. Pada 2005-2014, rerata pertumbuhan ekonomi kita 5,8%, dan jika kita tdk perhitungkan periode krisis global 2008 mampu mencapai 5,9%. Namun pada 10 tahun terakhir, pada 2015-2024, rerata pertumbuhan ekonomi kita diperkirakan hanya di kisaran 4,2%. Andaipun kita keluarkan periode pandemi 2020-2021, rerata pertumbuhan ekonomi kita tetap diperkirakan hanya akan di kisaran 5,1%, jauh dari target 7%, dan bahkan lebih rendah dari periode Presiden SBY.

Sudah lebih sepuluh tahun sejak kita menikmati bonus demografi pada 2012 namun pertumbuhan ekonomi kita stagnan di kisaran 5 persen. Puncak bonus demografi berakhir pada 2030. Pasca 2030, Indonesia akan mulai memasuki fase maturity, dan pasca 2045 memasuki fase ageing society. Waktu tersisa untuk meraih posisi sebagai high income country hanya tersisa 7 tahun sebelum puncak bonus demografi berakhir, dan hanya tersisa 23 tahun sebelum kita memasuki fase penduduk yang semakin menua, ageing society.

Para capres harus mampu menunjukkan strategi reindustrialisasi baru yang lebih baik dari sekedar hilirisasi tambang. Hal ini karena strategi hilirisasi tambang yang kini digencarkan pemerintah terbukti gagal mentransformasi ekonomi dan mengakselerasi pertumbuhan kita. Dengan hilirisasi tambang yang demikian gencar, bahkan ugal-ugalan, pertumbuhan ekonomi kita tetap stagnan di kisaran 5%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.